ULEG-ULEG
BAHASA: STUDI PADA PERKEMBANGAN BAHASA
KAMONDAN DI KAMPUNG GRESIKAN KELURAHAN KAUMAN KOTA BLTAR TAHUN 1949-2012
Slamet Rohman
E-mail: rohmanpeace@gmail.com
ABSTRAK: Tujuan
penelitian ini yaitu untuk merekonstruksi latar belakang munculnya bahasa
kamondan pada tahun 1949 dan hal-hal yang dapat mempengaruhi terbentuknya,
meliputi karakter dan kebiasaan masyarakat Gresikan, serta perekmbangannya
hingga tahun 2012. Penelitian dilakukan dengan menggunakan metode
historis. Masyarakat kampung Gresikan
menyebut bahasa tersebut dengan sebutan Kamondan (Kauman). Bahasa ini muncul
sejak tahun 1949-an bahkan lebih kebelakang lagi. Hingga saat ini bahasa
tersebut masih dilestarikan.
Kata
Kunci: Bahasa Rahasia, Karakter, Kebiasaan
Kedudukan bahasa
dalam kebudayaan merupakan sebuah unsur yang penting selain unsur-unsur lain,
seperti sistem pengetahuan, mata pencaharian, adat istiadat, kesenian, dan
sistem peralatan hidup. Bahkan bahasa dapat dikategorikan sebagai unsur
kebudayaan yang berbentuk nonmaterial selain nilai, norma dan kepercayaan
(Liliweri, A. 2003: 151). Batasan bahasa ditegaskan Widjono (2007:15) adalah
system lambang bunyi ujaran yang digunakan untuk berkomuniksi oleh masyarakat
pemakainya. Digunakan dalam berbagai lingkungan, tingkatan dan kepentingn yang
beraneka ragam, misalnya komunikasi ilmiah, bisnis, kerja, sosial dan budaya.
Manusia
merupakan mahkluk sosial yang saling membutuhkan antara manusia satu dengan
manusia yang lain. Saling ketergantungan antar masnusia tersebut mendorong
adanya suatu komunikasi. Sekolompok manusia di dalam suatu masyarakat
menggunakan kata khas dalam suatu bahasa yang berkembang di wilayahnya untuk
berkomunikasi. Seperti ditegaskan Lyons dalam Siberani (1992:90) bahwa bahasa
berperan sebagai alat Komunikasi dan merupakan kebenaran yang tidak dapat
disangkal lagi, selain itu sulit membayangkan batasan istilah yang memuaskan
tanpa menghubungkannya dengan pengertian komunikasi.
Setiap
daerah memiliki ciri khas bahasa yang berbeda. Setiap daerah memiliki
variasi-variasi bahasa yang unik. Dapat diketahui pula bahwa variasi-variasi
bahasa tersebut biasanya cenderung memperlihatkan pola-pola tertentu. Pola-pola
itu ada yang dipengaruhi pola-pola sosial, ada pula yang bersifat kedaerahan
atau geografis. Di samping itu, perbedaan itu tidak hanya terjadi pada tataran
bunyi bahasa, tetapi juga terdapat pada semua tingkatan analisa bahasa lainnya.
(Keraf, 1991: 143). Pada beberapa daerah pola sosial sangat mempengaruhi pembentukan
suatu bahasa. Bahasa yang digunakan oleh sekelompok masyarakat dalam
berkomunikasi sangat dipengaruhi oleh pola sosial yang telah ada, meliputi
karakter dan kebiasaan masyarakat tersebut dalam menyampaikan suatu informasi
kepada lawan bicaranya. Pembentukan suatu bahasa juga bisa terjadi pada
sekelompok masyarakat perkampungan yang memiliki karakter dan kebiasaan yang
unik serta memiliki kecerdasan dalam mengolah kata dari bahasa induk yang sudah
menjadi paten.
Pada
sekitar tahun 1949-an, di kampung gresikan (jl. Tidar) Kelurahan Kauman Kota
Blitar muncul suatu bahasa yang unik sebagai produk asli masyarakat di wilayah
tersebut. Masyarakat kampung gresikan menyebutnya dengan bahasa “kamondan”. Sejarah
munculnya bahasa kamondan memiliki kaitan erat dengan karakter dan kebiasaan
masyarakat kampung gresikan dalam berkomunikasi. Bahasa tersebut sangata unik
dan hanya pada kalangan masyarakat kampung Gresikan yang mengerti dan dapat
menuturkannya. Bahasa tersebut tidak bisa di fahami oleh masyarakat di luar
kampung Gresikan, terkecuali masyarakat luar yang memiliki kedekatan dengan
warga kampung Gresikan. Bahasa tersebut dapat di kategorikan sebagai bahasa
Rahasia karena hanya pada kalangan masyarakat Kampung Gresikan saja yang dapat
memahami.
Merujuk
pada uraian berikut, maka penelitian kali ini akan memfokuskan pada sejarah
munculnya bahasa kamondan serta bagaimana bahasa tersebut digunakan
sehari-hari. Penelitian ini juga mengkaji perkembangan bahasa kamondan
dari tahun 1949 sampai 2012. Penentuan
temporal tersebut didasarkan pada informasi dari Narasumber yang merupakan
salah satu saksi terbentuknya bahasa kamondan.
Penelitian
terdahulu yang telah diperoleh yaitu karya ilmiah berupa artikel dari
(Sulaeman, D. 2012) dengan judul “Proses
Morfofonologis dalam Pembentukan Kosakata yang di Pakai dalam Bahasa Gaul
Kreasi Debby Sahertian”. Hasil dari penelitian ini yaitu, sistem morfofonologis
tidak menemukan sistematika yang bisa diterapkan pada semua kata. Dari hasil
analisis proses morfofonologis berhasil membuat duabelas kaidah proses
pembentukan kosa kata bahsa gaul. Namun dari kedua belas kaidah tersebut, tidak
ada kaidah yang tepat untuk bisa diterapkan terhadap kata lain. Dengan tidak
bisa diterapkan untuk kata yang lain, kosakata bahasa gaul yang diciptakan oleh
Debby ini tergolong pada kosakata ekslusif, artinya hanya kosakata tertetusaja
yang yang bisa diubah untuk menjadi bahasa gaul.
Penelitian
selanjutnya karya dari (Sudjalil. 2005), yang berjudul “Studi Pemetaan Dialek Bahasa Jawa Sub Malang (Studi Awal Menuju ke
Arah Studi Geografi Dialek Bahasa Jawa Malangan di Kotamadia Malang)”.
Hasil analisis dari penelitian ini yaitu bahasa Jawa dialek Malang buka lah
sebuah dialek yang berdiri sendiri melainkan adanya pengaruh dari bahasa Jawa
baku. Kesamaan yang ditunjukan antara bahasa Jawa dan bahasa Jawa dialek
Malangan cukup menunjukan bahwa pengaruh bahasa pertama pada penutur bahasa di
Kecamatan Lowok Waru, Kotamadia Malang sangat besar.
Penelitian
yang selanjutnya berupa sekripsi dari (Heaney, N. 2005) yang berjudul “Hubungan Bahasa-bahasa di Malang: Pengaruh
Bahasa Inggris Terhadap Bahasa Indonesia Pemuda”. Hasil analisis dari
penelitian ini yaitu, hasil hubungan bahasa-bahasa Inggris dan bahasa Indonesia
adalah pemasukan banyak kata pinjaman bahasa Inggris kepada bahasa gaul Malang,
sebuah proses ini sering termasuk perubahan dalam artinya kata baru. Semua
hanya gejala perubahan yang paling penting yang disebabkan oleh hubungan
bahasa-bahasa itu; sebuah varietas bahasa gaul yang baru, bahasa campuran yang
termasuk bahasa Indonesia dan bahasa Inggris.
Selanjutnya
karya ilmiah berupa sekripsi dari (Ismiyati. 2011), yang berjudul “ Bahasa Prokem di Kalangan Remaja Kotagede”.
Berdasarkan perubahan struktur fonologisnya, kosakata dalam bahasa prokem remaja Kotagede yaitu di bagi
kedalam 2 varian, yang pertama dalam bahasa Jawa dan yang kedua bahasa
Indonesia. Proses pembentukan kosakata bahasa prokem varian bahasa Jawa
mengalami tiga proses afikasi, reduplikasi, dan akronim yang terdiri atas tiga
varian. Proses pembentukan prokem varian bahasa Indonesia secara morfologis
mengalami tiga proses, yaitu akronim, afikasi dan reduplikasi.
Penelitian
yang terahir yaitu karya ilmiah berupa Artikel (Theodora, N. 2013), yang
berjudul “Studi Tentang Ragam Bahasa Gaul
di Media Elektronik Radio Pada Penyiar Memora-FM Manado”. Penelitian ini
membahas tentang radio memora yang memiliki cirikhas penyampaian informasi
dengan menggunakan bahasa gaul dan sudah menjadi bahasa sehari-hari penyiar
radio. Penerapan bahasa gaul pada radio memora, para pendengar bisa memperoleh
hal-hal yang baru yang tentunya bisa juga menghasilkan pengalaman baru dari
sisi bahasa. Selain itu bahasa gaul bisa menjadi sarana hiburan yang cukup
efektif untuk pendengarnya.
Penelitian
terdahulu yang seperti dijelaskan diatas hanya berfokus pada kaidah-kaidah
dalam pembentukan bahasa dan perkembangannya. Berbeda dengan penelitian kali
ini, peneliti akan menganalisis dari segi sejarah terbentuknya bahasa, termasuk
didalamnya tentang latar belakang, sebab-sebab, tujuan dan kegunaan bahasa
tersebut serta pelaku-pelaku rintisan bahasa. Selain itu, penelitian ini akan
merekonstruksi perkembangan bahasa tersebut yang meliputi pelestarian,
perkembangan penggunaan dan tujuan, bahasa tersebut. Seperti yang telah
dijelaskan sebelumnya, penelitian ini fokus dalam kajian sejarah guna
merekonstrusi keberadaan budaya tersebut dan perkembangannya.
Alsan
pengambilan tema ini, mendasarkannya pada dua alasan, yang pertama karena
secara emosional peneliti merupakan asli penduduk kampung gresikan dan memiliki
keinginan untuk mengkaji tema tentang bahasa kamondan. Alasan yang kedua yaitu secara
akademis peneliti ingin mengkaji unsur-unsur dalam pembentukan suatu bahasa,
dalam kasus ini yaitu karakter dan kebiasaan masyarakat kampung gresikan dalam
berkomunikasi. Lebih dari itu, krakter dan kebiasaan sejalan dengan sejarah
terbentuknya bahasa kamondan.
Tujuan
penelitian ini diharapkan dapat merekonstruksi sejarah munculnya bahasa
kamondan dan beberapa faktor yang mempengaruhinya, dalam kasus ini yaitu
karakter dan kebiasaan masyarakat kampung gresikan. perkembangan bahasa
merupakan suatu pokok kajian yang akan juga di bahas pada penelitian. Peneliti
akan mencoba menggali beberapa kosakata yang telah terbentuk agar mengetahui
kata-kata yang diolah dari bahasa induk (Jawa) maupun kata yang dibuat tanpa
pengolahan kata dari bahasa Induk.
METODE
PENELITIAN
Penelitin ini menggunakan metode historis dengan beberapa
pendekatan sosial seperti antropologi,dan ilmu bahasa guna memperkuat
rekonstruksi yang dilakukan oleh peneliti dan menjawab beberapa permasalahan
yang telah ditentukan. Data diperoleh dari beberapa informan dan narasumber
yang memiliki informasi atau keterangan langsung terkait masalah sejarah
munculnya bahasa kamondan. Pengumpulan sumber menggunakan tekhnk wawancara,
karena sulitnya mencari bukti tertulis yng dappat digunakan sebagai sumber
data. Narasumber merupakan saksi dari terbentuknya bahasa kamondan yang masih
dapat di mintai keterangan. Informan tidak saja dari orang-orang yang memiliki
kesaksian dari terbentuknya bahasa tersebut melainkan juga dari beberapa orang
kampung gresikan yang mengalami perkembangan bahasa kamondan guna mengetahui
perkembangan bahsa tersebut. Selama ini peneliti masih mendapatkan informan
sejumlah 3 dan 1 narasumber.
Dari beberapa narasumber dan informan tersebut didapatkan
informasi lisan yang menjadi satu-satunya sumber primer yang di peroleh karena
tidak ada bukti tertulis untuk dijadikan sumber terkait terbentuknya bahasa
kamondan. Data primer merupkan data asli yang dikumpulkan oleh peneliti secara
khusus (Istijianto, M., M. 2005: 45).[1]
Sebelum masuk pada tahap analisis data yang telah diperoleh, peneliti terlebih
dahulu melakukan kritik terhadap informan dan informasi yang telah diberikan.
Setelah pada tahap kritik, peneliti melakukan analisis terhadap data yang telah
diperoleh. Analisis dilakukan dengan memadukan antara pendekatan-pendekatan
ilmu sosial guna menjawab beberapa rumusan masalah yang telah di tentukan dan
mempertajam eksplanasi pada penulisan karya ilmiah ini.
HASIL
PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
Kampung gresikan berada ditengah jantung kota, tetapatnya
di Jl. Tidar Kelurahan Kauman Kota Blitar. Sebutan sebagai kampung gresikan
merupakan suatu sejarah tersendiri bagi masyarakat Jl. Tidar. Sebutan kampung
gresikan mulai ada semenjak para pendatang dari kota Gresik menetap di wilayah
ini untuk menyebarkan ajaran agama Islam sebelum era kemerdekaan. Oleh karena
itulah masyarakat luas menyebut daerah ini sebagai kampung gresikan, selain itu
semenjak kedatangan para ulama dari kota Gresik wilayah ini menjadi pusat dari
pengajaran agama Islam di Blitar.
Pada tahun 1945, setelah era kemerdekaan penduduk kampung
gresikan berkembang menjadi suatu masyarakat yang kompleks. Tumbuh beberapa
pemuda yang memiliki karakter atau sifat yang sangat unik. Pada tahun 1949
pemuda dan remaja kampung gresikan tumbuh suatu tren untuk membicarakan suatu
hal dengan lawan bicara tanpa harus diketahui oleh orang lain disekitarnya,
baik yang bersangkutan maupun yang tidak bersangkutan. Pembicaraan tetap dilakukan
dengan suara yang lantang. Namun dalam hal ini, agar pembicaraan tidak dapat
diketahui maksut atau tujuannya oleh orang disekitar dan hanya lawan biacara
saja yang dapat memahami, para pemuda kampung gersikan mengolah kata-kata dari
bahasa Jawa menjadi kata yang sulit di fahami oleh orang disekitar bahkan tidak
dapat dimengerti sama sekali. Bukan hanya mengolah kata-kata dari bahasa Jawa,
namun juga menciptkan suatu kata yang baru.
Berdasarkan sumber yang telah di peroleh dari narasumber
selama penelitian berlangsung, munculnya bahasa kamondan di pengaruhi oleh
kebiasaan para pemuda gresikan yang tercakup dalam suatu kelompok pergaulan
untuk mengolah kosakata dari bahasa Jawa sebagai bahasa induk, menjadi kata
yang sifatnya sangat rahasia dan hanya kelompok pergaulan tersebut yang dapat
memahami bahasa tersebut. Menurut Bordieu dalam (Sutrisno, M & Putranto, H.
2005: 180) menyatakan bahwa kebiasaan merupak kecenderungan-kecenderungan
empiris untuk bertindak dalam cara-cara yang khusus terhadap gaya hidup.
Pendapat Bordieu selaras dengan kenyataan pada peristiwa munculnya bahasa
kamondan. Kebiasaan para pemuda kampung gresikan pada tahun 1949 merupakan
kecenderungan empiris. Untuk dapat berkomunikasi dengan kawan sepergaulan, para
pemuda kampung gresikan memiliki cara-cara khusus dalam menggunakan kata-kata
agar pembicaraan tidak dapat dikethui maksut dan tujuannya oleh orang lain
diluar kelompok.
Karakter para pemuda gresikan pada era-49 tersebut sangat
mempengruhi kebiasaan untuk mengolah kosakata. Berdasarkan informasi yang telah
diperoleh dari narasumber, dapat dianalisis bahwasannya para pemuda kampung
gresikan dalam setiap kegiatan sosial selalu berusaha tampil beda dengan kelompok
masyarakat di luar kampung gresikan. Pada kasus ini, kebiasaan mengolah
kata-kata merupakan aktualisasi karakter para pemuda kampung gresikan dalam berkomunikasi
dengan rekan satu lingkup pergaulan, yang bertujuan agar tidak dapat di ketahui
oleh orang lain di luar kelompok.
Menurut penuturan narasumber, bahasa kamondan diciptakan
oleh orang-orang yang dulu merupakan seorang Pejuang TRIP (Tentara Republik
Indonesia Pelajar). Berkenaan dengan munculya TRIP di Blitar tidak terlepas
dengan Konggres Pelajar ke II Januari 1946 di Madiun yang merealisasikan Ikrar
Pelajar pada Konggres pertama di Yogyakarta dengan membentuk satuan TRIP
(Hardjasoemantri, K., dkk.--:3-4). Merujuk pada informasi tersebut, bahwasannya
bahasa kamondan telah ada sejak dekade awal kemerdekaan, lebih kebelakang lagi
dari tahun 1949. Menurut analisis dari informasi tersebut, bahasa kamondan
mulai dirintis atau dalam tahap penciptaan pada tahun 1946. Hal ini diperkuat
dengan informasi dari narasumber, bahawasannya bahasa mulai dibuat sekitar
tahun 1945 dan mulai berkembang secara utuh pada tahun 1949.
Munculnya TRIP tidak terlepas dari peristiwa perang fisik
oleh pasukan-pasukan gerilya untuk menghadang pasukan Belanda. Peristiwa
tersebut memiliki hubungan erat dengan munculnya suatu bahasa dengan kata-kata
sandi. Para pasukan Gerilya menggunakan bahasa sandi dalam berkomunikasi dengan
sesama pejuang, agar dapat mengelabuhi tentara Belanda. Pasukan Gerilya di Kota
Malang menggunakan bahasa sandi dengan membalik bahasa Jawa sebagai bahasa
induk menjadi kata sulit di fahami oleh tentara Belanda. Bahasa tersebut masih
lestari sampai saat ini, dengan sebutan bahasa walikan atau ngalaman. Belum
dapat diketahui secara pasti tetang keberadaan bahasa kamondan di kampung
gresikan juga memiliki keterkaitan perjuangan para pasukan TRIP. Keterbatasan
informasi, sumber dan waktu menjadi penghalang untuk menggali lebih dalam
keterkaitan bahasa kamondan dengan perjuangan pasukan TRIP di Blitar kususnya
kampung gresikan.
Bahasa kamondan, dalam konteks pembentukan bahasa berbeda
dengan bahasa walikan di Malang,
namun memiliki induk bahasa yang sama yaitu Bahasa Jawa. Meskipun bahasa walikan
juga menggunakan bahasa Indonesia sebagai bahasa induk, secara garis besar
bahasa induk yang digunakan yaitu bahasa Jawa Malangan. Bahasa walikan dalam
proses pembentukannya hanya membolak-balik dari kata induk, seperti “mlaku-mlaku” menjadi “ukalm-ukalm”
yang dalam bahasa Indonesia artinya jalan-jalan. Sedangkan bahasa kamondan
lebih kepada pengolahan kata Induk menjadi kata yang sulit di fahami oleh orang
lain diluar kelompok. Dewasa ini banyak fariasi dalam pembentukan bahasa
kamondan. Namun yang dapat dipastikan secara umum kata-kata dihilangkan
beberapa huruf baik dari depan, tengah dan belakang lalu di imbuhi dengan
beberapa huruf untuk pengawal maupun menyambung. Seperti ”Mlaku-mlaku” menjadi “Kemlak-kemlak”,
menghilangkan dua fonem terhir dan memberi imbuhan “Ke” sebagai awalan menjadi “kemlak”.
Lebih dari itu, ada beberapa kata yang sulit diungkapkan dalam ilmu linguistik,
seperti “Alon” menjadi “landon” yang dalam bahasa Indonesia berarti
pelan. Deskripsi dari pembentukan kata ini yaitu menghilangkan satu huruf di
depan “A” tersisa “lon” lalu masih di olah lagi dengan
memisah anatara “L” dan “on” dengan imbuhan “and” di tengah menjadi landon.
Bahasa kamondan merupakan basa rakyat, yang tumbuh dari
beberapa pemuda yang memiliki kebiasaan dan karakter yang sangat unik. Bahasa tersebut
tergolong dalam bahasa Slang, di tiliki dari unsur kerahasiaanya dan
keterbatasan bahasa tersebut. Menurut (Jatmika, S. 2009:34) bahasa Slang adalah
bahasa yang hanya diketahui kalangan kalangan atau kolektif khusus. Maksud
diciptakannya bahasa slang untuk menyamarkan arti bahasanya bagi orang luar.
Cara ini disebut juga sebagai bahasa rahasia. Namun dari pada itu bahasa
kamondan memiliki cirikhas tersendiri dari segi pembentukan dan bahasa induk
yang digunakan.
Tujuan dari diciptakannya bahasa kamondan, agar dapat
berbicara dengan lawan bicara secara rahasia tanpa menyamarkan suara. Menurut
sumber yang diperoleh, bahasa kamondan juga berfungsi untuk mengungguli atau
menyaingi orang Cina yang ada di sekitar kampung gresikan, karena memiliki bahasa
yang sulit difahami oleh masyarakat kampung gresikan. Oleh karena itu
terciptanya bahasa tersebut salah satunya untuk mengungguli bahasa orang Cina,
agar orang Cina di sekitar kampung gresikan juga tidak dapat memahami arti
bahasa yang digunakan oleh pemuda-pemuda gresikan.
Selama dekade 1965, bahasa kamondan masih menjadi bahasa
yang digunakan sehari-sehari dalam berkomunikasi oleh sebagian besar penduduk
kampung gresikan. Berdasarkan sumber yang telah diperoleh dilapangan, bahasa
kamondan terus digunakan dalam berkomunikasi hingga generasi ke-2 dari sekitar
tahun 1965. Pengguna bahasa kamondan pada masa ini tidak terbatas pada
pelaku-pelaku yag memiliki inisiatif menciptakan bahasa tersebut. Baik
laki-laki maupun perempuan yang sudah menginjak masa pergaulan dapat memahami
bahasa tersebut. Tidak ada pengajaran secara khusus terkait bahasa kamondan.
Pewarisan bahasa berjalan melalui perbincangan sehari-hari dalam pergaulan,
bagi seseorang yang kurang faham akan diberi tahu oleh lawan bicara tentang
arti dari kata yang telah diucapkan.
Pada generasi ke-3 yaitu sekitar tahun 2012, selain untuk
perbincangan sehari-hari, bahasa kamondan masih berfungsi untuk mengelabuhi
seseorang atau sebagai bahsa rahasia. Pada generasi ini bahasa kamondan
berfungsi mengelabuhi anak-anak kecil, orang baru, tamu, penjual keliling dan
lain sebagainya. Masayarakat kampung gresikan mengerti atau faham dengan bahasa
kamondan hanya sebatas anak-anak tingkat SMP,SMA, pemuda, dan kamituo yang
merupakan saksi dari munculnya bahasa kamondan.
Bahasa kamondan menjadi bahasa unik yang tumbuh dan
berkembang terbatas di wilayah kampung gresikan. Beberapa kosa kata dapat di
fahami oleh masyarakat di luar kampung gresikan karena adanya interaksi antara
penduduk kampung gresikan dengan penduduk diluarnya. Lebih dari itu, bahasa
kamondan yang telah diwariskan secara turun-temurun juga mewariskan sebuah
karakter kepada penerus kampung gresikan. Masyarakat kampung gresikan masih
sering menggunakan bahasa kamondan untuk merahasiakan sesuatu yang di bicarakan
dengan lisan tanpa harus diketahui oleh orang di sekitarnya, baik yang
bersangkutan maupun yang tidak bersangkutan dari permasalahan yang telah di
bicarakan. Namun terbatas pada orang-orang baru, anak-anak maupun penjual atau
pedagang dari luar kampung. Uraian berikut sesuai dengan pendapat (Parera, D.
2004: 61) bahwa pewarisan kebudayaan dilakukan lewat pewarisan bahasa yang
bermakna.
Bahasa yang dari awal terbentuknya memiliki hubungan erat
dengan karakter dan kebiasaan pemuda gresikan tahun 49-an berkembang hingga
generasi ke-3. Unsur rahasia dalam pemakaian bahasa ini masih sangat kental
hingga pada generasi ke-3 dewasa ini. berdasarkan penelitian yang telah
dilakukan, di dapatkan beberapa kosakata yang diperoleh dari narasumber dan
beberapa responden. Kata-kata yang telah diperoleh dalam penelitian ini
bersifat sementara, karena sangat dimungkinkan banyak kata-kata yang belum
termaktub dalam glosarium yang telah dibuat.
|
BAHASA/ KATA
|
||
|
JAWA
|
INDONESIA
|
KAMONDAN
|
|
Aku
|
Aku
|
Kandus
|
|
Adus
|
Mandi
|
Danggus
|
|
Akeh
|
Banyak
|
Kandeh
|
|
Alon
|
Pelan
|
Landon
|
|
Aloon-aloon
|
Aloon-Aloon
|
Landon-landon
|
|
Ayu
|
Cantik
|
Yandus
|
|
Bencong
|
Banci
|
Jemong
|
|
Cilik
|
Kecil
|
Lindik- Linyik
|
|
Dolan
|
Main
|
Londan
|
|
Duwit
|
Uwang
|
Wundit-Wusun
|
|
Elek
|
Jelek
|
Lendek
|
|
Enak
|
Enak
|
Nenggak
|
|
Enek
|
Ada
|
Nenggek
|
|
Enom
|
Muda
|
Nenggom
|
|
Eroh
|
Tahu
|
Rendoh
|
|
Gedi
|
Besar
|
Dengsi
|
|
Gelem
|
Mau
|
Hedem
|
|
Gendeng
|
Gila
|
Baset
|
|
Iki
|
Ini
|
Kindis
|
|
Ireng
|
Hitam
|
Rindeng
|
|
Isin
|
Malu
|
Sindin
|
|
Jembot
|
Rambut Kemaluan
|
Bengsrut
|
|
Kali
|
Sungai
|
Bandi
|
|
Kerjo
|
Kerja
|
Beker
|
|
Klambi
|
Baju
|
Beslak
|
|
Kopi
|
Kopi
|
Ponggi
|
|
Kowe
|
Kamu
|
Wonde
|
|
Kontol
|
Kemaluan Laki-laki
|
Lunyep
|
|
Lanang
|
Laki-laki
|
Sonang
|
|
Larang
|
Mahal
|
Kelar
|
|
Lonte
|
Pelacur
|
Kepus-Pusung
|
|
Loro
|
Dua
|
Longgros
|
|
Manis
|
Manis
|
Mones
|
|
Mancing
|
Memancing
|
Caming
|
|
Mangan
|
Makan
|
Kemlek
|
|
Mati
|
Mati
|
Tamis
|
|
Meneng
|
Diam
|
Nemeng-Nyinggek
|
|
Meteng
|
Hamil
|
Tusem
|
|
Metu
|
Keluar
|
Temus
|
|
Mlaku
|
Jalan
|
Kemlak
|
|
Mlebu
|
Masuk
|
Sublem
|
|
Muleh
|
Pulang
|
Sulum
|
|
Nginceng
|
Ngintip
|
Cinggeng
|
|
Ngiseng
|
Berak
|
Sindeng
|
|
Ngemot
|
Melumat
|
Menggot
|
|
Ngombe
|
Minum
|
Kenom
|
|
Ngomong
|
Berbicara
|
Monggong
|
|
Nguyuh
|
Buang air kecil
|
Yunduh
|
|
Oleh
|
Boleh
|
Londeh
|
|
Ora
|
Tidak
|
Mbo
|
|
Parkir
|
Parkir
|
Kepar
|
|
Pasar
|
Pasar
|
Eprat
|
|
Pentil
|
Payudara
|
Hathem
|
|
Polisi
|
Polisi
|
Gambas
|
|
Rabi
|
Menikah
|
Surab
|
|
Rokok
|
Rokok
|
Tunyor
|
|
Sate
|
Sate
|
Tanye
|
|
Sekolah
|
Sekoalah
|
Lekun
|
|
Sepuluh
|
Sepuluh
|
Lepun
|
|
Siji
|
Satu
|
Tusin
|
|
Sopo
|
Siapa
|
Ponyo
|
|
Stasiun
|
Stasiun
|
Tasimun
|
|
Susu
|
Susu
|
Su’u
|
|
Tentara
|
Tentara
|
Banten
|
|
Tole/ Le
|
Anak/ nak
|
Gle
|
|
Tuku
|
Beli
|
Kunus
|
|
Tuwek
|
Tuwa
|
Tumek
|
|
Ugong
|
Belum
|
Rundong
|
|
Uwis
|
Sudah
|
Wundis
|
|
Uwong
|
Orang
|
Mundong
|
|
Wedi
|
Takut
|
Demis
|
|
Wedok
|
Perempuan
|
Sudew
|
KESIMPULAN
Bahasa kamondan mulai muncul pada tahun 1949. Bahasa
tersebut tercipta karena munculnya karakter yang unik dari pemuda-pemuda kampun
gresikan yang selalu merahasiakan maksut ungkapan kata dari orang dari orang
diluar kelompok. Karakter tersebut memunculkan suatu kebiasaan untuk mengolah
kosakata dari bahasa jawa menjadi bahsa yang sulit difahami oleh orang diluar
kelompok. Tujuan dari diciptakannya bahasa kamondan, agar dapat berbicara
dengan lawan bicara secara rahasia tanpa menyamarkan suara. Bahasa kamondan tetap
lestari dan tetap digunakan sebagai kata ciri khas mereka. bahasa kamoondan
berkembang dari generasi pertama yaitu pada tahun 1949, hingga generasi ke-2
dan ke3 tahun 1965-2012.
SARAN
Berdasarkan simpulan diatas, maka saran yang diajukan,
dirumuskan sebagai berikut. Pemerintah Kota Blitar agar memberikan perhatian
khusus terhadap bahasa kamondan sebagai hasil budaya masyarakat asli Kota
Blitar. Kepada seluruh masyarakat gresikan agar tetap melestarikan bahasa
kamondan dengan menggunakannya sebagai bahasa percakapan seharai-hari.
DAFTAR
PUSTAKA
Hardjasoemantri, K., dkk. Jurnal sejarah: pemikiran,
rekonstruksi, persepsi. --: Yayasan Obor.
Heaney,
N. 2005. Hubungan Bahasa-bahasa di
Malang: Pengaruh Bahasa Inggris Terhadap Bahasa Indonesia Pemuda.
Universitas Muhammadiyah Malang.
Ismiyati.
2011, yang berjudul “ Bahasa Prokem di
Kalangan Remaja Kotagede”. Universitas Negeri Yogyakarta, Fakultas Bahasa
dan Seni.
Istijianto,
M., M. 2005. Aplikasi Praktis Riset
Pemasaran. Jakarta: IKPI.
Jatmika, S. 2009. Urip Mung Mampir Nguyuh: telaah
sosiologis foklor Jogja.
Keraf, G. 1991. Linguistik Bandingan Historis. Jakarta:
PT Gramedia Pustaka Utama.
Liliweri,
A.. 2003. Makna Budaya Dalam Komunikasi
Antar Budaya.Yogyakarta: LkiS Pelangi Aksara
Parera, D. 2004: Teori
Semantik. Jakarta: Airlangga.
Sibarani, R. 1992. Hakikat Bahasa Bandung:
Citra Adtya Bakti.
Sudjalil. 2005. Studi Pemetaan Dialek Bahasa Jawa Sub Malang (Studi Awal Menuju ke Arah
Studi Geografi Dialek Bahasa Jawa Malangan di Kotamadia Malang). Humanity
volume 1, 1 September 2005(hal, 53-59).
Sulaeman,
D. 2012. Proses Morfofonologis dalam
Pembentukan Kosakata yang di Pakai dalam Bahasa Gaul Kreasi Debby Sahertian.
Al-Staqafa Volume 9, 1 juni 2012.
Sutrisno, M & Putranto, H. 2005. Teori-teori kebudayaan. Yogyakarta:
Kanisius
Widjono.2007. Bahasa
Indonesia. Jakarta:Grasindo.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar