Kamis, 21 Juli 2016


ULEG-ULEG BAHASA: STUDI PADA  PERKEMBANGAN BAHASA KAMONDAN DI KAMPUNG GRESIKAN KELURAHAN KAUMAN KOTA BLTAR TAHUN 1949-2012

Slamet Rohman
E-mail: rohmanpeace@gmail.com

ABSTRAK: Tujuan penelitian ini yaitu untuk merekonstruksi latar belakang munculnya bahasa kamondan pada tahun 1949 dan hal-hal yang dapat mempengaruhi terbentuknya, meliputi karakter dan kebiasaan masyarakat Gresikan, serta perekmbangannya hingga tahun 2012. Penelitian dilakukan dengan menggunakan metode historis.  Masyarakat kampung Gresikan menyebut bahasa tersebut dengan sebutan Kamondan (Kauman). Bahasa ini muncul sejak tahun 1949-an bahkan lebih kebelakang lagi. Hingga saat ini bahasa tersebut masih dilestarikan.
Kata Kunci: Bahasa Rahasia, Karakter, Kebiasaan

            Kedudukan bahasa dalam kebudayaan merupakan sebuah unsur yang penting selain unsur-unsur lain, seperti sistem pengetahuan, mata pencaharian, adat istiadat, kesenian, dan sistem peralatan hidup. Bahkan bahasa dapat dikategorikan sebagai unsur kebudayaan yang berbentuk nonmaterial selain nilai, norma dan kepercayaan (Liliweri, A. 2003: 151). Batasan bahasa ditegaskan Widjono (2007:15) adalah system lambang bunyi ujaran yang digunakan untuk berkomuniksi oleh masyarakat pemakainya. Digunakan dalam berbagai lingkungan, tingkatan dan kepentingn yang beraneka ragam, misalnya komunikasi ilmiah, bisnis, kerja, sosial dan budaya.
            Manusia merupakan mahkluk sosial yang saling membutuhkan antara manusia satu dengan manusia yang lain. Saling ketergantungan antar masnusia tersebut mendorong adanya suatu komunikasi. Sekolompok manusia di dalam suatu masyarakat menggunakan kata khas dalam suatu bahasa yang berkembang di wilayahnya untuk berkomunikasi. Seperti ditegaskan Lyons dalam Siberani (1992:90) bahwa bahasa berperan sebagai alat Komunikasi dan merupakan kebenaran yang tidak dapat disangkal lagi, selain itu sulit membayangkan batasan istilah yang memuaskan tanpa menghubungkannya dengan pengertian komunikasi.
            Setiap daerah memiliki ciri khas bahasa yang berbeda. Setiap daerah memiliki variasi-variasi bahasa yang unik. Dapat diketahui pula bahwa variasi-variasi bahasa tersebut biasanya cenderung memperlihatkan pola-pola tertentu. Pola-pola itu ada yang dipengaruhi pola-pola sosial, ada pula yang bersifat kedaerahan atau geografis. Di samping itu, perbedaan itu tidak hanya terjadi pada tataran bunyi bahasa, tetapi juga terdapat pada semua tingkatan analisa bahasa lainnya. (Keraf, 1991: 143). Pada beberapa daerah pola sosial sangat mempengaruhi pembentukan suatu bahasa. Bahasa yang digunakan oleh sekelompok masyarakat dalam berkomunikasi sangat dipengaruhi oleh pola sosial yang telah ada, meliputi karakter dan kebiasaan masyarakat tersebut dalam menyampaikan suatu informasi kepada lawan bicaranya. Pembentukan suatu bahasa juga bisa terjadi pada sekelompok masyarakat perkampungan yang memiliki karakter dan kebiasaan yang unik serta memiliki kecerdasan dalam mengolah kata dari bahasa induk yang sudah menjadi paten.
            Pada sekitar tahun 1949-an, di kampung gresikan (jl. Tidar) Kelurahan Kauman Kota Blitar muncul suatu bahasa yang unik sebagai produk asli masyarakat di wilayah tersebut. Masyarakat kampung gresikan menyebutnya dengan bahasa “kamondan”. Sejarah munculnya bahasa kamondan memiliki kaitan erat dengan karakter dan kebiasaan masyarakat kampung gresikan dalam berkomunikasi. Bahasa tersebut sangata unik dan hanya pada kalangan masyarakat kampung Gresikan yang mengerti dan dapat menuturkannya. Bahasa tersebut tidak bisa di fahami oleh masyarakat di luar kampung Gresikan, terkecuali masyarakat luar yang memiliki kedekatan dengan warga kampung Gresikan. Bahasa tersebut dapat di kategorikan sebagai bahasa Rahasia karena hanya pada kalangan masyarakat Kampung Gresikan saja yang dapat memahami.
            Merujuk pada uraian berikut, maka penelitian kali ini akan memfokuskan pada sejarah munculnya bahasa kamondan serta bagaimana bahasa tersebut digunakan sehari-hari. Penelitian ini juga mengkaji perkembangan bahasa kamondan dari  tahun 1949 sampai 2012. Penentuan temporal tersebut didasarkan pada informasi dari Narasumber yang merupakan salah satu saksi terbentuknya bahasa kamondan.
            Penelitian terdahulu yang telah diperoleh yaitu karya ilmiah berupa artikel dari (Sulaeman, D. 2012) dengan judul “Proses Morfofonologis dalam Pembentukan Kosakata yang di Pakai dalam Bahasa Gaul Kreasi Debby Sahertian”. Hasil dari penelitian ini yaitu, sistem morfofonologis tidak menemukan sistematika yang bisa diterapkan pada semua kata. Dari hasil analisis proses morfofonologis berhasil membuat duabelas kaidah proses pembentukan kosa kata bahsa gaul. Namun dari kedua belas kaidah tersebut, tidak ada kaidah yang tepat untuk bisa diterapkan terhadap kata lain. Dengan tidak bisa diterapkan untuk kata yang lain, kosakata bahasa gaul yang diciptakan oleh Debby ini tergolong pada kosakata ekslusif, artinya hanya kosakata tertetusaja yang yang bisa diubah untuk menjadi bahasa gaul.
            Penelitian selanjutnya karya dari (Sudjalil. 2005), yang berjudul “Studi Pemetaan Dialek Bahasa Jawa Sub Malang (Studi Awal Menuju ke Arah Studi Geografi Dialek Bahasa Jawa Malangan di Kotamadia Malang)”. Hasil analisis dari penelitian ini yaitu bahasa Jawa dialek Malang buka lah sebuah dialek yang berdiri sendiri melainkan adanya pengaruh dari bahasa Jawa baku. Kesamaan yang ditunjukan antara bahasa Jawa dan bahasa Jawa dialek Malangan cukup menunjukan bahwa pengaruh bahasa pertama pada penutur bahasa di Kecamatan Lowok Waru, Kotamadia Malang sangat besar.
            Penelitian yang selanjutnya berupa sekripsi dari (Heaney, N. 2005) yang berjudul “Hubungan Bahasa-bahasa di Malang: Pengaruh Bahasa Inggris Terhadap Bahasa Indonesia Pemuda”. Hasil analisis dari penelitian ini yaitu, hasil hubungan bahasa-bahasa Inggris dan bahasa Indonesia adalah pemasukan banyak kata pinjaman bahasa Inggris kepada bahasa gaul Malang, sebuah proses ini sering termasuk perubahan dalam artinya kata baru. Semua hanya gejala perubahan yang paling penting yang disebabkan oleh hubungan bahasa-bahasa itu; sebuah varietas bahasa gaul yang baru, bahasa campuran yang termasuk bahasa Indonesia dan bahasa Inggris.
            Selanjutnya karya ilmiah berupa sekripsi dari (Ismiyati. 2011), yang berjudul “ Bahasa Prokem di Kalangan Remaja Kotagede”. Berdasarkan perubahan struktur fonologisnya, kosakata dalam bahasa prokem remaja Kotagede yaitu di bagi kedalam 2 varian, yang pertama dalam bahasa Jawa dan yang kedua bahasa Indonesia. Proses pembentukan kosakata bahasa prokem varian bahasa Jawa mengalami tiga proses afikasi, reduplikasi, dan akronim yang terdiri atas tiga varian. Proses pembentukan prokem varian bahasa Indonesia secara morfologis mengalami tiga proses, yaitu akronim, afikasi dan reduplikasi.
            Penelitian yang terahir yaitu karya ilmiah berupa Artikel (Theodora, N. 2013), yang berjudul “Studi Tentang Ragam Bahasa Gaul di Media Elektronik Radio Pada Penyiar Memora-FM Manado”. Penelitian ini membahas tentang radio memora yang memiliki cirikhas penyampaian informasi dengan menggunakan bahasa gaul dan sudah menjadi bahasa sehari-hari penyiar radio. Penerapan bahasa gaul pada radio memora, para pendengar bisa memperoleh hal-hal yang baru yang tentunya bisa juga menghasilkan pengalaman baru dari sisi bahasa. Selain itu bahasa gaul bisa menjadi sarana hiburan yang cukup efektif untuk pendengarnya.
            Penelitian terdahulu yang seperti dijelaskan diatas hanya berfokus pada kaidah-kaidah dalam pembentukan bahasa dan perkembangannya. Berbeda dengan penelitian kali ini, peneliti akan menganalisis dari segi sejarah terbentuknya bahasa, termasuk didalamnya tentang latar belakang, sebab-sebab, tujuan dan kegunaan bahasa tersebut serta pelaku-pelaku rintisan bahasa. Selain itu, penelitian ini akan merekonstruksi perkembangan bahasa tersebut yang meliputi pelestarian, perkembangan penggunaan dan tujuan, bahasa tersebut. Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, penelitian ini fokus dalam kajian sejarah guna merekonstrusi keberadaan budaya tersebut dan perkembangannya.
            Alsan pengambilan tema ini, mendasarkannya pada dua alasan, yang pertama karena secara emosional peneliti merupakan asli penduduk kampung gresikan dan memiliki keinginan untuk mengkaji tema tentang bahasa kamondan. Alasan yang kedua yaitu secara akademis peneliti ingin mengkaji unsur-unsur dalam pembentukan suatu bahasa, dalam kasus ini yaitu karakter dan kebiasaan masyarakat kampung gresikan dalam berkomunikasi. Lebih dari itu, krakter dan kebiasaan sejalan dengan sejarah terbentuknya bahasa kamondan.
            Tujuan penelitian ini diharapkan dapat merekonstruksi sejarah munculnya bahasa kamondan dan beberapa faktor yang mempengaruhinya, dalam kasus ini yaitu karakter dan kebiasaan masyarakat kampung gresikan. perkembangan bahasa merupakan suatu pokok kajian yang akan juga di bahas pada penelitian. Peneliti akan mencoba menggali beberapa kosakata yang telah terbentuk agar mengetahui kata-kata yang diolah dari bahasa induk (Jawa) maupun kata yang dibuat tanpa pengolahan kata dari bahasa Induk.
METODE PENELITIAN
            Penelitin ini menggunakan metode historis dengan beberapa pendekatan sosial seperti antropologi,dan ilmu bahasa guna memperkuat rekonstruksi yang dilakukan oleh peneliti dan menjawab beberapa permasalahan yang telah ditentukan. Data diperoleh dari beberapa informan dan narasumber yang memiliki informasi atau keterangan langsung terkait masalah sejarah munculnya bahasa kamondan. Pengumpulan sumber menggunakan tekhnk wawancara, karena sulitnya mencari bukti tertulis yng dappat digunakan sebagai sumber data. Narasumber merupakan saksi dari terbentuknya bahasa kamondan yang masih dapat di mintai keterangan. Informan tidak saja dari orang-orang yang memiliki kesaksian dari terbentuknya bahasa tersebut melainkan juga dari beberapa orang kampung gresikan yang mengalami perkembangan bahasa kamondan guna mengetahui perkembangan bahsa tersebut. Selama ini peneliti masih mendapatkan informan sejumlah 3 dan 1 narasumber.
            Dari beberapa narasumber dan informan tersebut didapatkan informasi lisan yang menjadi satu-satunya sumber primer yang di peroleh karena tidak ada bukti tertulis untuk dijadikan sumber terkait terbentuknya bahasa kamondan. Data primer merupkan data asli yang dikumpulkan oleh peneliti secara khusus (Istijianto, M., M. 2005: 45).[1] Sebelum masuk pada tahap analisis data yang telah diperoleh, peneliti terlebih dahulu melakukan kritik terhadap informan dan informasi yang telah diberikan. Setelah pada tahap kritik, peneliti melakukan analisis terhadap data yang telah diperoleh. Analisis dilakukan dengan memadukan antara pendekatan-pendekatan ilmu sosial guna menjawab beberapa rumusan masalah yang telah di tentukan dan mempertajam eksplanasi pada penulisan karya ilmiah ini.
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
            Kampung gresikan berada ditengah jantung kota, tetapatnya di Jl. Tidar Kelurahan Kauman Kota Blitar. Sebutan sebagai kampung gresikan merupakan suatu sejarah tersendiri bagi masyarakat Jl. Tidar. Sebutan kampung gresikan mulai ada semenjak para pendatang dari kota Gresik menetap di wilayah ini untuk menyebarkan ajaran agama Islam sebelum era kemerdekaan. Oleh karena itulah masyarakat luas menyebut daerah ini sebagai kampung gresikan, selain itu semenjak kedatangan para ulama dari kota Gresik wilayah ini menjadi pusat dari pengajaran agama Islam di Blitar.
            Pada tahun 1945, setelah era kemerdekaan penduduk kampung gresikan berkembang menjadi suatu masyarakat yang kompleks. Tumbuh beberapa pemuda yang memiliki karakter atau sifat yang sangat unik. Pada tahun 1949 pemuda dan remaja kampung gresikan tumbuh suatu tren untuk membicarakan suatu hal dengan lawan bicara tanpa harus diketahui oleh orang lain disekitarnya, baik yang bersangkutan maupun yang tidak bersangkutan. Pembicaraan tetap dilakukan dengan suara yang lantang. Namun dalam hal ini, agar pembicaraan tidak dapat diketahui maksut atau tujuannya oleh orang disekitar dan hanya lawan biacara saja yang dapat memahami, para pemuda kampung gersikan mengolah kata-kata dari bahasa Jawa menjadi kata yang sulit di fahami oleh orang disekitar bahkan tidak dapat dimengerti sama sekali. Bukan hanya mengolah kata-kata dari bahasa Jawa, namun juga menciptkan suatu kata yang baru.
            Berdasarkan sumber yang telah di peroleh dari narasumber selama penelitian berlangsung, munculnya bahasa kamondan di pengaruhi oleh kebiasaan para pemuda gresikan yang tercakup dalam suatu kelompok pergaulan untuk mengolah kosakata dari bahasa Jawa sebagai bahasa induk, menjadi kata yang sifatnya sangat rahasia dan hanya kelompok pergaulan tersebut yang dapat memahami bahasa tersebut. Menurut Bordieu dalam (Sutrisno, M & Putranto, H. 2005: 180) menyatakan bahwa kebiasaan merupak kecenderungan-kecenderungan empiris untuk bertindak dalam cara-cara yang khusus terhadap gaya hidup. Pendapat Bordieu selaras dengan kenyataan pada peristiwa munculnya bahasa kamondan. Kebiasaan para pemuda kampung gresikan pada tahun 1949 merupakan kecenderungan empiris. Untuk dapat berkomunikasi dengan kawan sepergaulan, para pemuda kampung gresikan memiliki cara-cara khusus dalam menggunakan kata-kata agar pembicaraan tidak dapat dikethui maksut dan tujuannya oleh orang lain diluar kelompok.
            Karakter para pemuda gresikan pada era-49 tersebut sangat mempengruhi kebiasaan untuk mengolah kosakata. Berdasarkan informasi yang telah diperoleh dari narasumber, dapat dianalisis bahwasannya para pemuda kampung gresikan dalam setiap kegiatan sosial selalu berusaha tampil beda dengan kelompok masyarakat di luar kampung gresikan. Pada kasus ini, kebiasaan mengolah kata-kata merupakan aktualisasi karakter para pemuda kampung gresikan dalam berkomunikasi dengan rekan satu lingkup pergaulan, yang bertujuan agar tidak dapat di ketahui oleh orang lain di luar kelompok.
            Menurut penuturan narasumber, bahasa kamondan diciptakan oleh orang-orang yang dulu merupakan seorang Pejuang TRIP (Tentara Republik Indonesia Pelajar). Berkenaan dengan munculya TRIP di Blitar tidak terlepas dengan Konggres Pelajar ke II Januari 1946 di Madiun yang merealisasikan Ikrar Pelajar pada Konggres pertama di Yogyakarta dengan membentuk satuan TRIP (Hardjasoemantri, K., dkk.--:3-4). Merujuk pada informasi tersebut, bahwasannya bahasa kamondan telah ada sejak dekade awal kemerdekaan, lebih kebelakang lagi dari tahun 1949. Menurut analisis dari informasi tersebut, bahasa kamondan mulai dirintis atau dalam tahap penciptaan pada tahun 1946. Hal ini diperkuat dengan informasi dari narasumber, bahawasannya bahasa mulai dibuat sekitar tahun 1945 dan mulai berkembang secara utuh pada tahun 1949.
            Munculnya TRIP tidak terlepas dari peristiwa perang fisik oleh pasukan-pasukan gerilya untuk menghadang pasukan Belanda. Peristiwa tersebut memiliki hubungan erat dengan munculnya suatu bahasa dengan kata-kata sandi. Para pasukan Gerilya menggunakan bahasa sandi dalam berkomunikasi dengan sesama pejuang, agar dapat mengelabuhi tentara Belanda. Pasukan Gerilya di Kota Malang menggunakan bahasa sandi dengan membalik bahasa Jawa sebagai bahasa induk menjadi kata sulit di fahami oleh tentara Belanda. Bahasa tersebut masih lestari sampai saat ini, dengan sebutan bahasa walikan atau ngalaman. Belum dapat diketahui secara pasti tetang keberadaan bahasa kamondan di kampung gresikan juga memiliki keterkaitan perjuangan para pasukan TRIP. Keterbatasan informasi, sumber dan waktu menjadi penghalang untuk menggali lebih dalam keterkaitan bahasa kamondan dengan perjuangan pasukan TRIP di Blitar kususnya kampung gresikan.
            Bahasa kamondan, dalam konteks pembentukan bahasa berbeda dengan bahasa walikan di Malang, namun memiliki induk bahasa yang sama yaitu Bahasa Jawa. Meskipun bahasa walikan juga menggunakan bahasa Indonesia sebagai bahasa induk, secara garis besar bahasa induk yang digunakan yaitu bahasa Jawa Malangan. Bahasa walikan dalam proses pembentukannya hanya membolak-balik dari kata induk, seperti “mlaku-mlaku”  menjadi “ukalm-ukalm” yang dalam bahasa Indonesia artinya jalan-jalan. Sedangkan bahasa kamondan lebih kepada pengolahan kata Induk menjadi kata yang sulit di fahami oleh orang lain diluar kelompok. Dewasa ini banyak fariasi dalam pembentukan bahasa kamondan. Namun yang dapat dipastikan secara umum kata-kata dihilangkan beberapa huruf baik dari depan, tengah dan belakang lalu di imbuhi dengan beberapa huruf untuk pengawal maupun menyambung. Seperti ”Mlaku-mlaku” menjadi “Kemlak-kemlak”, menghilangkan dua fonem terhir dan memberi imbuhan “Ke” sebagai awalan menjadi “kemlak”. Lebih dari itu, ada beberapa kata yang sulit diungkapkan dalam ilmu linguistik, seperti “Alon” menjadi “landon” yang dalam bahasa Indonesia berarti pelan. Deskripsi dari pembentukan kata ini yaitu menghilangkan satu huruf di depan “A” tersisa “lon” lalu masih di olah lagi dengan memisah anatara “L” dan “on” dengan imbuhan “and” di tengah menjadi landon.
            Bahasa kamondan merupakan basa rakyat, yang tumbuh dari beberapa pemuda yang memiliki kebiasaan dan karakter yang sangat unik. Bahasa tersebut tergolong dalam bahasa Slang, di tiliki dari unsur kerahasiaanya dan keterbatasan bahasa tersebut. Menurut (Jatmika, S. 2009:34) bahasa Slang adalah bahasa yang hanya diketahui kalangan kalangan atau kolektif khusus. Maksud diciptakannya bahasa slang untuk menyamarkan arti bahasanya bagi orang luar. Cara ini disebut juga sebagai bahasa rahasia. Namun dari pada itu bahasa kamondan memiliki cirikhas tersendiri dari segi pembentukan dan bahasa induk yang digunakan.
            Tujuan dari diciptakannya bahasa kamondan, agar dapat berbicara dengan lawan bicara secara rahasia tanpa menyamarkan suara. Menurut sumber yang diperoleh, bahasa kamondan juga berfungsi untuk mengungguli atau menyaingi orang Cina yang ada di sekitar kampung gresikan, karena memiliki bahasa yang sulit difahami oleh masyarakat kampung gresikan. Oleh karena itu terciptanya bahasa tersebut salah satunya untuk mengungguli bahasa orang Cina, agar orang Cina di sekitar kampung gresikan juga tidak dapat memahami arti bahasa yang digunakan oleh pemuda-pemuda gresikan.
            Selama dekade 1965, bahasa kamondan masih menjadi bahasa yang digunakan sehari-sehari dalam berkomunikasi oleh sebagian besar penduduk kampung gresikan. Berdasarkan sumber yang telah diperoleh dilapangan, bahasa kamondan terus digunakan dalam berkomunikasi hingga generasi ke-2 dari sekitar tahun 1965. Pengguna bahasa kamondan pada masa ini tidak terbatas pada pelaku-pelaku yag memiliki inisiatif menciptakan bahasa tersebut. Baik laki-laki maupun perempuan yang sudah menginjak masa pergaulan dapat memahami bahasa tersebut. Tidak ada pengajaran secara khusus terkait bahasa kamondan. Pewarisan bahasa berjalan melalui perbincangan sehari-hari dalam pergaulan, bagi seseorang yang kurang faham akan diberi tahu oleh lawan bicara tentang arti dari kata yang telah diucapkan.
            Pada generasi ke-3 yaitu sekitar tahun 2012, selain untuk perbincangan sehari-hari, bahasa kamondan masih berfungsi untuk mengelabuhi seseorang atau sebagai bahsa rahasia. Pada generasi ini bahasa kamondan berfungsi mengelabuhi anak-anak kecil, orang baru, tamu, penjual keliling dan lain sebagainya. Masayarakat kampung gresikan mengerti atau faham dengan bahasa kamondan hanya sebatas anak-anak tingkat SMP,SMA, pemuda, dan kamituo yang merupakan saksi dari munculnya bahasa kamondan.
            Bahasa kamondan menjadi bahasa unik yang tumbuh dan berkembang terbatas di wilayah kampung gresikan. Beberapa kosa kata dapat di fahami oleh masyarakat di luar kampung gresikan karena adanya interaksi antara penduduk kampung gresikan dengan penduduk diluarnya. Lebih dari itu, bahasa kamondan yang telah diwariskan secara turun-temurun juga mewariskan sebuah karakter kepada penerus kampung gresikan. Masyarakat kampung gresikan masih sering menggunakan bahasa kamondan untuk merahasiakan sesuatu yang di bicarakan dengan lisan tanpa harus diketahui oleh orang di sekitarnya, baik yang bersangkutan maupun yang tidak bersangkutan dari permasalahan yang telah di bicarakan. Namun terbatas pada orang-orang baru, anak-anak maupun penjual atau pedagang dari luar kampung. Uraian berikut sesuai dengan pendapat (Parera, D. 2004: 61) bahwa pewarisan kebudayaan dilakukan lewat pewarisan bahasa yang bermakna.
            Bahasa yang dari awal terbentuknya memiliki hubungan erat dengan karakter dan kebiasaan pemuda gresikan tahun 49-an berkembang hingga generasi ke-3. Unsur rahasia dalam pemakaian bahasa ini masih sangat kental hingga pada generasi ke-3 dewasa ini. berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, di dapatkan beberapa kosakata yang diperoleh dari narasumber dan beberapa responden. Kata-kata yang telah diperoleh dalam penelitian ini bersifat sementara, karena sangat dimungkinkan banyak kata-kata yang belum termaktub dalam glosarium yang telah dibuat.
BAHASA/ KATA
JAWA
INDONESIA
KAMONDAN
Aku
Aku
Kandus
Adus
Mandi
Danggus
Akeh
Banyak
Kandeh
Alon
Pelan
Landon
Aloon-aloon
Aloon-Aloon
Landon-landon
Ayu
Cantik
Yandus
Bencong
Banci
Jemong
Cilik
Kecil
Lindik- Linyik
Dolan
Main
Londan
Duwit
Uwang
Wundit-Wusun
Elek
Jelek
Lendek
Enak
Enak
Nenggak
Enek
Ada
Nenggek
Enom
Muda
Nenggom
Eroh
Tahu
Rendoh
Gedi
Besar
Dengsi
Gelem
Mau
Hedem
Gendeng
Gila
Baset
Iki
Ini
Kindis
Ireng
Hitam
Rindeng
Isin
Malu
Sindin
Jembot
Rambut Kemaluan
Bengsrut
Kali
Sungai
Bandi
Kerjo
Kerja
Beker
Klambi
Baju
Beslak
Kopi
Kopi
Ponggi
Kowe
Kamu
Wonde
Kontol
Kemaluan Laki-laki
Lunyep
Lanang
Laki-laki
Sonang
Larang
Mahal
Kelar
Lonte
Pelacur
Kepus-Pusung
Loro
Dua
Longgros
Manis
Manis
Mones
Mancing
Memancing
Caming
Mangan
Makan
Kemlek
Mati
Mati
Tamis
Meneng
Diam
Nemeng-Nyinggek
Meteng
Hamil
Tusem
Metu
Keluar
Temus
Mlaku
Jalan
Kemlak
Mlebu
Masuk
Sublem
Muleh
Pulang
Sulum
Nginceng
Ngintip
Cinggeng
Ngiseng
Berak
Sindeng
Ngemot
Melumat
Menggot
Ngombe
Minum
Kenom
Ngomong
Berbicara
Monggong
Nguyuh
Buang air kecil
Yunduh
Oleh
Boleh
Londeh
Ora
Tidak
Mbo
Parkir
Parkir
Kepar
Pasar
Pasar
Eprat
Pentil
Payudara
Hathem
Polisi
Polisi
Gambas
Rabi
Menikah
Surab
Rokok
Rokok
Tunyor
Sate
Sate
Tanye
Sekolah
Sekoalah
Lekun
Sepuluh
Sepuluh
Lepun
Siji
Satu
Tusin
Sopo
Siapa
Ponyo
Stasiun
Stasiun
Tasimun
Susu
Susu
Su’u
Tentara
Tentara
Banten
Tole/ Le
Anak/ nak
Gle
Tuku
Beli
Kunus
Tuwek
Tuwa
Tumek
Ugong
Belum
Rundong
Uwis
Sudah
Wundis
Uwong
Orang
Mundong
Wedi
Takut
Demis
Wedok
Perempuan
Sudew

KESIMPULAN
            Bahasa kamondan mulai muncul pada tahun 1949. Bahasa tersebut tercipta karena munculnya karakter yang unik dari pemuda-pemuda kampun gresikan yang selalu merahasiakan maksut ungkapan kata dari orang dari orang diluar kelompok. Karakter tersebut memunculkan suatu kebiasaan untuk mengolah kosakata dari bahasa jawa menjadi bahsa yang sulit difahami oleh orang diluar kelompok. Tujuan dari diciptakannya bahasa kamondan, agar dapat berbicara dengan lawan bicara secara rahasia tanpa menyamarkan suara. Bahasa kamondan tetap lestari dan tetap digunakan sebagai kata ciri khas mereka. bahasa kamoondan berkembang dari generasi pertama yaitu pada tahun 1949, hingga generasi ke-2 dan ke3 tahun 1965-2012.
SARAN
            Berdasarkan simpulan diatas, maka saran yang diajukan, dirumuskan sebagai berikut. Pemerintah Kota Blitar agar memberikan perhatian khusus terhadap bahasa kamondan sebagai hasil budaya masyarakat asli Kota Blitar. Kepada seluruh masyarakat gresikan agar tetap melestarikan bahasa kamondan dengan menggunakannya sebagai bahasa percakapan seharai-hari.
DAFTAR PUSTAKA
Hardjasoemantri, K., dkk. Jurnal sejarah: pemikiran, rekonstruksi, persepsi. --: Yayasan Obor.
Heaney, N. 2005. Hubungan Bahasa-bahasa di Malang: Pengaruh Bahasa Inggris Terhadap Bahasa Indonesia Pemuda. Universitas Muhammadiyah Malang.
Ismiyati. 2011, yang berjudul “ Bahasa Prokem di Kalangan Remaja Kotagede”. Universitas Negeri Yogyakarta, Fakultas Bahasa dan Seni.
Istijianto, M., M. 2005. Aplikasi Praktis Riset Pemasaran. Jakarta: IKPI.
Jatmika, S. 2009. Urip Mung Mampir Nguyuh: telaah sosiologis foklor Jogja.
Keraf, G. 1991. Linguistik Bandingan Historis. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.
Liliweri, A.. 2003. Makna Budaya Dalam Komunikasi Antar Budaya.Yogyakarta: LkiS Pelangi Aksara
Parera, D. 2004: Teori Semantik. Jakarta: Airlangga.
Sibarani, R. 1992. Hakikat Bahasa Bandung: Citra Adtya Bakti.
Sudjalil. 2005. Studi Pemetaan Dialek Bahasa Jawa Sub Malang (Studi Awal Menuju ke Arah Studi Geografi Dialek Bahasa Jawa Malangan di Kotamadia Malang). Humanity volume 1, 1 September 2005(hal, 53-59).
Sulaeman, D. 2012. Proses Morfofonologis dalam Pembentukan Kosakata yang di Pakai dalam Bahasa Gaul Kreasi Debby Sahertian. Al-Staqafa Volume 9, 1 juni 2012.
Sutrisno, M & Putranto, H. 2005. Teori-teori kebudayaan. Yogyakarta: Kanisius
Widjono.2007. Bahasa Indonesia. Jakarta:Grasindo.


Tidak ada komentar: